Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Jumat, 03 Agustus 2012

Kekeliruan kita di bulan Ramadhan

Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

Ramadhan


Bagaimana di bulan ramadhan
Bulan ramadhan adalah bulan yang sangat dinantikan bagi umat islam yang kuat imannya, dan terasa berat bagi yang tipis imannya. Pernyataan ini mari kita kembalikan kepada diri kita sendiri, padahal Allah Swt telah menurunkan banyak keberkahan di bulan ini baik materi maupun spritual.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a. dari Abu Hurairah r.a. :
« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ».

Minggu, 22 Juli 2012

Do'a Sesudah Shalat Tarawih dan Witir

Do’a sesudah shalat Tarawih.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلَمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Rabu, 18 Juli 2012

ANDAIKATA

           Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.Kemudian Rosulullah berkata, "Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?"
Istrinya menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya?"

"saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."

Selasa, 17 Juli 2012

menyambut Ramadhan 1

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul 

termulia: Muhammad SAW, juga  atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang 

mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti.



Ramadhan Kariim, Marhaban Ya Ramadhan …  Bulan Ramadhan telah benar-benar datang 

menjelang. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah 

sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum 

yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita 

sadari.  

Selasa, 26 Juni 2012

Berhias hati dengan menangis


“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain
Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung
Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt.

Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit
Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih
Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu

Minggu, 24 Juni 2012

FAdhilah Bulan sya'ban (jawa)

Kita sedaya sami ngawuningani bilih wulan Sya’ban menika kalebet wulan ingkang mulya lan agung, inkang mekaten menika nitik tindakipun Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad katah nindakaken prihatosan shiyam ing wulan Sya’ban ngaten punika . Kados dawuh hadits riwayat saking Siti ‘Aisyah, Panjenenganipun ngendika :
مـا رأيــت رسـول الله صـلىالله عـلـيـه وســلـم  اسـتـكـمل صـيـام شـهـر قط الا شـهـر رمـضــان  ومـا رأيـتـه فى شـهـر أكـثر  مــه صـيــامـا فى شـعـبــان
“Aku durung tahu ngerti Rasulallahu Sallallahu ‘alaihi wa sallam nyampurnaake pasa sewulan natas sak liyane wulan Romadlon, lan aku durung tahu weruh Panjenengane Kanjeng Nabi pasa ing sawijining wulan kang luwih akeh saka   wulan Sya’ban” (HR.Bukhari Muslim).
Saking dawuh menika saget dipun fahami bilih wulan Sya’ban menika sanget istimewa menggah Kanjeng Nabi ngantos mboten wonten wulan sanesipun Wulan Ramadhan ingkang katah dipun pasani dining Panjenenganipun kados dene wulan Sya’ban. Menapa jalaranipun ? Wonten sawenehing shahabat ingkang nyuwun pirsa dateng Kanjeng Nabi babakan menika, inggih anggenipun Kanjeng Nabi katah shiyam ing wulan Sya’ban. Panjenenganipun lajeng paring dawuh :
ذلـك شـهـر يـغـفـل الـنــــاس عـنــه بـيـن رجب ورمـضــان وهـو شـهـرتـر فــع فـيــه الأعـمـال الى رب الـعــالمــين فـأحب ان يـرفـع عمــل وأنــا صــائم
“Wulan Sya’ban iku wulan kang akeh dilalek ake dening akehe manungsa, manggone ing antarane wulan Rojab lan Ramadhan, ya ing wulan Sya’ban kuwi ngamale manungsa diaturake ing ngarsane Allah Kang Mangerani kabeh alam. Mula aku seneng menawa ngamalku diaturake lan wektu kuwi aku lagi  pasa” (HR. Abu Dawud lan Nasa’i).
Para sederek Kaum Muslimin  ingkang Minulya
Minangka mulyaaken wulan Sya’ban ingkang agung menika kejawi kita nambahi ta’at nanging kita ugi kedah ngeker lan mekak nafsu kita saking lampah makshiyat lan duraka dateng Allah supados Allah tansah paring pangreksa dateng kita saking samukawis balak lan coba ing saklebetipun gesang punika. Jalaran  Kanjeng Nabi sampun paring dawuh mekaten :
من عـظـم شــعـبــان واتـقى الله تـعــالى وعـمـل بـطـاعــتـه وأمـنـه  وأمـسـك نـفــســـه عـن الـمـعـصـيـة غـفر الله تـعــالى  ذنـوبـه وأمــنــه مـن كل مــا يــقــون فى تـلـك   الــســنــة مـن الـبـلا يــا والأمرض
“Sing sapa wonge ngegungake wulan Sya’ban sarana taqwa marang Allah Ta’ala, lan ngamal tha’at marang Allah,   uga nahan nafsune sangka ma’shiyat, mangka Allah bakal paring pangapura marang   dosa dosane, lan Allah bakal paring slamet sekabehe bala’ bencana lan pirang pirang penyakit kang kedadean   ing tahun kuwi” .
Ningali semanten peparing kanugerahanipun Allah dateng tiyang ingkang mulyakaken wulan Sya’ban, eman sanget menawi kita mboten nampi kanugerahan punika.  Langkung langkung ing mangsa punika mushibah kongang dumados sak wanci wanci, seget temama dateng sinten kemawon, sahingga raos ajrih lan kuatos tansah sliweran ing manah kita. Pramila kagem sarana wilujengan nyuwun pangreksan mboten wonten ingkang paling leres kejawi namung dateng ingkang kagungan , inggih Allah Ta’ala. Saweneh caranipun nderek lan nindak aken dawuh Nabi kasebat, nambahi tha’at lan nyuda ma’shiyat ing wulan Sya’ban menika. Mekaten ugi minangka sarana panyuwunan pangreksa dateng Allah saking sak wernining penyakit, ingkang sinaosa mboten ganas ndumugekaken seda nanging nguras duit, sinaosa mboten nggondol nyawa nanging nelasaken banda, punika sedaya kongang dumugi saben wanci.  
Para sederek Kaum Muslimin  ingkang Minulya
Nabi mboten sekedar ndawuhi nanging ugi nyontoni, mila sakmestinipun kita nderek dateng tindakipun, inggih amergi tindakipun kanjeng Nabi menika lajeng kita dipun sunnataken shiyam ing wulan Sya’ban menika. Ananging kita ugi kedah faham pranatan syari’at, jalaran shiyam wulan Sya’ban ngaten punika kedah saderengipun tanggal setengah, bakda nisfu Sya’ban ita dipun haramaken shiyam sunnat kejawi menawi anggenipun shiyam wiwit sak derengipun, utawi sampun ngadataken ing saben wulanipun kadosta upaminipun ingkang sampun mbiyasakaken shiyam sunnat Senen Kemis .
Mekaten ugi amaliyah amaliyah sanes ingkang prayogi dipun tindakaken,  langkung langkung ing wekdal malem Nishfu Sya’ban. Ingkang ugi dipun dawuhaken dening Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam :
اذا كان لـيلـة الـنـصـف  من شـعـبـان فـقـومـوا لـيـلـهـا وصـومـوا نـهــارهــا , فـان الله تـعــالى فى تـلـك اللـيلـة يـنـزل الى سـمـاء الـدنـيـاعـنـد غروب  الـشمس  فيـقـول : هـل مـن ســائل  فـاعــطيــه سـؤلــه , وهـل مـن مـســتـغـفــر فـأغـفــرله وهـل مـن مـسـترزق فــأرزقـه حتى يـطلـع الفـجر
 
“Nalika tengahe  wulan Sya’ban wis tumeka , mangka pada tangiha  tumandang  ngibadah sira kabeh ing wektu bengine,  lan pada pasaha ing rinane. Jalaran Allah Ta’ala ing wengi kuwi nurunake rahmat  ing langit dunya nalikane surup  serngenge, nuli paring dawuh ; “Sapa sing nyuwun mesti Ingsun paringi apa panyuwunane. Sapa sing nyuwun apura , mesti Ingsun paringi pangapura, sapa sing nyuwun rizki mesti Ingsun paringi, mengono iu nganti tumeka mletekke fajar”.
Mekaten agungipun wulan sya’ban, pramilo ngantos poro ulama ndawuhi bilih mpun dugi malem nisfu sya’ban kito dipun aturi maos yasin kaping 3 engkang sepindah dipun niati nyuwun pangapunten, kaping kaleh dipun niati nyuwun yuswo ingkang panjang lan barokah, lan kaping tigo dipun niati nyuwun rizki ingkang kathah lan barokah. Insyaallah kanti fadhilhipun suroh yasin do’a meniko saget ijabah.
Para sederek Kaum Muslimin  ingkang Minulya
Wonten ing wulan sya’ban meniko Wonten ing masyarakat kita sampun dados kabudayan ingkang sae secara turun tumurun ngantos sak menika, ingkang mboten nate dumados ing wulan sanesipun Sya’ban. Inggih puniko nyadranan. engkang Tujuan awalipun estunipun setunggal, inggih punika Birrul walidain, bektos dateng tiyang sepuh kalih. Menika jelas ngrupekaken kwajiban tumrap sedaya manungsa. Ingkang dipun dawuhaken dening Allah wonten ing Al Qur’an, sami ugi tiyang sepuh tasih sugeng utawi sampun seda. Ing antawisipun kanti cara nyuwunaken pangapunten lan ndungakaken nyuwunaken rahmat kangge tiyang sepuh kalih. Langkung langkung kagem tiyang sepuh ingkang sampun seda, kanti dipun ziarahi ing makamipun,   dipun suwunaken pangapunten saha dipun suwunaken rahmat kawelasan dateng Allah. Ngaten menika antawisipun bekti dateng tiyang sepuh, kados dawuh dalem Allah Ta’ala :
واعـبـدوا الله ولاتشــركـوابــه شـيـأ وبـالـوالـديـن احـسـانـا
“Sira kabeh pada nyembaha ing Gusti Allah, lan aja pada nyekutokake sira ing Allah kelawan apa wae . lan bada bektiya sira ing wong tuwa loro” ( An Nisa : 36 ).
Inggih kangge tujuan birrul walidain menika asal usul upacara nyadran . Karena kasunyatan katahipun masyarakat anggadahi tujuan lan seja ingkang sami, wonten ing wekdal lan papan ingkang sami sahingga wonten mufakatan ngleksanaaken tujuan menika   kanti sesarengan. Wonten ing riku tuwuh kesaenan kesaenan ingkang katah, antawisipun saget sami silaturrahim, sami saget ngedalaken shodakohan, maos maos kalimah dzikir lan Qur’an, kadang kadang wonten pengaosan beberipun ilmi saking ulama lan tasih katah kesaenan sanes sanes ipun. Sedaya punika terang minangka dawuh agami kita. Pramila estu tradisi lan pengadatan meniko prayogi kita uri uri lan kita jagi, ampun ngantos dipun kotori kanti kemakshiyatan ingkang ngrisakaken dateng tujuan utami nyadranan punika.
Para sederek Kaum Muslimin  ingkang Minulya,
Wondene ndungakaken dateng ahli kubur saking sederek sederek kita langkung langkung leluwur kita ingkang mukmin, sanget gamblang dawuhipun Allah wonten ing Al Qur’an :
والـذيـن جـائـوامـن بـعـدهـم  يـقـولـون  ربـنـا اغـفـرلـنـا ولاخوانـنـاالـذيـن سـبـقـونـا بـالايـمـان
Lan wong wong kang tumeka sak wuse wong kang pada ndisiki (Muhajirin lan Anshar), wong wong kuwi pada ndonga “ Duh pangeran kula mugi ngapuntena Paduka dateng kula  lan sederek sederek kula ingkang sami iman  langkung rumiyin katimbang kula ”.(QS.Al Hasyr : 10).
Lan malih dawuhipun :
واسـتـغـفـر لـذنـبـك وللمـؤ مــنـيـن والمـؤمـنـات
“Lan nyuwuna ngapura sira kanggo dosanira lan dosane wong wong mukmin lanang lan wadon “.   (QS. Muhammad : 19).
Kekalih ayat kasebat kanti terang Allah ndawuhaken dateng kita supados nyuwun ngapura kangge kita piyambak lan ugi sederek sederek kita tiyang tiyang mukmin ingkang sampun ngrumiyini seda.
Mekaten ugi hadits hadits dawuh Nabi katah sanget ingkang ndawuhaken ita supados nyuwunaken pangapunten dateng sederek sederek mukmin ingkang sampun seda, antawisipun hadits ingkang dipun riwayataken saking shahabat Utsman bin Affan RA.:
كان  الـنبي صلى الله  علـيـه وسلم  اذا فرغ  من دفـن الميـت  وقف  علـيـه  وقـال : استغـفروا  لأخيكم  وسـلـوا لـه بـالـتسـبيـت  فـانـه  الأن  يـســأل
“Nalika Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam   wis rampung saka ngubur sawijining mayit, Panjenengane jumeneng ana ing sak pinggire  kubur nuli ngendika “Nyuwuna ngapura sira kabeh kanggo sedulur ira, lan suwunna tetepe iman, amerga ing sa’at iki deweke lagi didangu dening   Malaikat”(HR.Abu Daud).
Para sederek Kaum Muslimin  ingkang Minulya,
Sedaya ingkang lumampah ing masyarakat ingkang sampun dados pengadatan wonten ing wulan Sya’ban punika, sakestu sedayanipun wonten dawuh tuntunanipun, tentu sifatipun umum mboten dawuh ingkang sifatipun khusus kedah lumampah ing wulan Sya’ban punika mboten.
Mugi mugi niyat lan seja ingkang sae, lan ugi kanti amaliyah ingkang sampun lumampah punika, sageta tinampi maqbul saha pikantuk karidlan wonten saking ngarsa dalem Allah Ta’ala.