Saudaraku penghapal Al-quran..
Ini adalah harta simpanan yang Allah percayakan disimpan didalam dadamu, dan ini adalah kedudukan yang Allah pilihkan atasmu untuk menempatinya, dan ini adalah kemuliaan yang engkau raih dimana pada hakikatnya adalah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakmu, amanat yang wajib atasmu menunaikannya. Maka selayaknya atasmu memuliakan Al-qur`an dalam dadamu dan menjaga dirimu dari penghambaan terhadap ahli dunia. Juga wajib engkau melazimi perilaku tawadhu, tenang, serta berwibawa. Hati-hatilah dari kesombongan dan takabbur tatkala engkau mendengar pujian manusia atasmu. Maka ketahuilah bahwasannya riya dapat meluluh-lantakkan amal-amal shalihmu. Bersemangatlah dalam melaksanakan kebaikan serta menjauhi maksiat maupun syubhat.
Berkata Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu: "Adalah selayaknya bagi para penghapal Qur`an terbedakan saat malamnya ketika manusia terlelap, tatkala siangnya ketika manusia berbuka, tatkala sedihnya ketika manusia bergembira, tatkala menangisnya ketika manusia tertawa, tatkala diamnya ketika manusia banyak bicara, dan dengan kekhusyuannya ketika manusia lalai"
Dari Alhasan Bashri rahimahulloh: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menganggap Al-quran sebagai kumpulan surat dari Rabb mereka, oleh karenanya mereka mentadabburinya disaat malam serta mengamalkannya di siang hari."
Dari Fudhoil bin `iyadh rahimahulloh: "Pembawa (penghapal) al-quran adalah pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia bergurau bersama orang-orang yang bergurau, tidak lupa bersama orang-orang yang lupa, serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang banyak cakap, sebagai pemuliaan terhadap haqnya Al-quran"
Pertama dari apa-apa yang seharusnya bagi penghapal Quran adalah bertakwa kepada Allah dalam semua keadaan, bersikap waro' dalam makan, minum, pakaian, serta perilakunya, tanggap terhadap zaman dan kerusakan penduduk dunia. Maka dia memperingatkan mereka dalam beragama, menjaga lisan, terbedakan didalam bicaranya, sedikit dari berlebihan pada apa-apa yang tak bermanfaat, sangat takut akan lisannya lebih takut dari pada musuhnya, mawas diri dari hawa nafsu yang dapat membuat Allah murka, bergumul dengan Quran untuk mendidik jiwa yang dengannya cita-citanya adalah dapat paham terhadap apa-apa yang Allah kabarkan dari ketaatan dan menjauhi maksiat.
Bukanlah cita-citanya: Kapan aku mengkhatamkan surat ini? Cita-citanya adalah: Kapan aku merasa cukup hanya dengan Allah bukan selainnya? Kapan aku menjadi orang bertakwa? Kapan aku menjadi orang yang berbuat ihsan? Kapan aku menjadi orang yang bertawakkal? Kapan aku khusyu beribadah?, Kapan aku bertaubat dari dosa-sosa? Kapan aku bersyukur atas segala nikmat ini? Kapan aku paham dari apa yang aku baca?, kapan aku malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya? Kapan aku menyibukkan mataku dengan Quran? Kapan aku perbaiki kejelekan-kejelekan urusanku? Kapan aku mengoreksi diri? Kapan aku membekali diri untuk kehidupan setelah mati di akhirat kelak?
Seorang mukmin yang berakal tatkala membaca Al-quran maka alquran itu bagaikan cermin di matanya sehingga dia bisa melihat apa yang bagus atau jelek dari perilakunya, maka apa-apa yang Allah peringatkan, dia merasa diperingatkan dan apa-apa yang Allah ancamkan dari siksa, dia merasa takut. Maka orang yang memiliki sifat seperti ini atau paling tidak dekat dengan sifat tersebut, maka Alquran akan menjadi saksi serta memberinya syafaat.
(Dinukil dari kitab "Warottilil qur`ana tartiila, Washoya wa Tanbihaat fit Tilawati wal Hifdzi wal Muroja`ati" dengan pengurangan dan perubahan sedikit)
Selasa, 15 Februari 2011
Senin, 24 Januari 2011
Bid'ah
BID’AH
I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid'ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan...dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid'ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.
IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
Walillahittaufiq
I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid'ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan...dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid'ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.
IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
Walillahittaufiq
tahlilan
Assalamualaikum Wr. Wb
TAHLILAN
Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat danlain-lain. Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah)
Sedangkan kaitannya dengan kematian kenapa diadakan tahlilan menurutku syah2 saja karena Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967). dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai. Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya).
Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pus yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila ada yang melarangnya aku lum menemukan dalilnya pus.. klo pean tahu kasih tau aq biar aq bs bljar lagi pus hehehe.....
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata. (pelajari lagi tentang hakikat bid’ah bos)
Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
Sebenarnya masih banyak yg perlu dijelaskan tp karena keterbatasanku ku kira ini dah sedikit bisa menjelaskan alasan / hukum tahlilan.
Allohu a’lam,
Wassalamualaikum Wr. Wb
Rojulun faqirun dho’ifun ilallah
Aris Hielmy Mubarok Basya
TAHLILAN
Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat danlain-lain. Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah)
Sedangkan kaitannya dengan kematian kenapa diadakan tahlilan menurutku syah2 saja karena Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967). dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai. Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya).
Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pus yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila ada yang melarangnya aku lum menemukan dalilnya pus.. klo pean tahu kasih tau aq biar aq bs bljar lagi pus hehehe.....
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata. (pelajari lagi tentang hakikat bid’ah bos)
Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
Sebenarnya masih banyak yg perlu dijelaskan tp karena keterbatasanku ku kira ini dah sedikit bisa menjelaskan alasan / hukum tahlilan.
Allohu a’lam,
Wassalamualaikum Wr. Wb
Rojulun faqirun dho’ifun ilallah
Aris Hielmy Mubarok Basya
Rabu, 29 Desember 2010
WAHAI KAU YANG MENGAKU WANITA
Jadilah seorang wanita sholihah,
Yang hatinya dibalut rasa taqwa kepada Alloh,
Yang jiwanya penuh penghayatan terhadap Dien Alloh,
Yang senantiasa haus dengan ibadah kepada Alloh,
Yang senantiasa dahaga akan mengharap ridho Alloh
Yang sholatnya adalah bekal dirinya,
Yang tidak pernah takut untuk berkata benar,
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu,
Yang senantiasa bersama para mujahiddah Alloh…
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menjaga tutur katanya,
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya,
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya,
Yang senatiasa berbuat kebajikan karena sifatnya yang penyayang,
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jahat…
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menghormati suaminya.
Yang senantiasa berbakti kepada orang tua dan keluarga,
Yang bakal menjaga kerukunan rumahtangga,
Yang akan mendampingi suami dalam mendidik anak-anaknya untuk mendalami Islam,
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan,
Karena dunia baginya adalah rumah sementara menuju akhirat…
Jadilah seorang wanita sholihah,
Yang senantiasa bersedia untuk menjadi makmum imamnya
Yang hidup di bawah naungan al-Quran dan qona'ah
Yang tidak dikotori dengan perhiasan dunia
Yang menjaga matanya dari berbelanja,
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya.
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang selalu menjaga lisan, penyayang keluarga & suaminya,
Matanya kepenatan karena membaca al-Quran,
Suaranya lesu karena penat berzikir,
Tidurnya lelap dengan cahaya keimanan,
Bangunnya Subuh penuh kesigapan
Karena dia sadar betapa indahnya menjadi wanita sholihah melebihi perhiasan apapun didunia
Semakin sadar bertambah usianya bertambah kematangannya
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang senantiasa mengabdikan diri untuk menjadi mujahiddah Alloh
Yang baginya hidup di dunia adalah ladang akhirat,
Yang mana buah kehidupan itu perlu dipelihara dan dijaga,
Agar tumbuh putik tunas yang bakal menjaga dirinya di alam baqo'
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian.
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang tidak terpesona dengan buaian dunia,
Karena dia memimpikan syurga Alloh.
Semoga senantiasa dirahmati-Nya... Aamiin....
Yang hatinya dibalut rasa taqwa kepada Alloh,
Yang jiwanya penuh penghayatan terhadap Dien Alloh,
Yang senantiasa haus dengan ibadah kepada Alloh,
Yang senantiasa dahaga akan mengharap ridho Alloh
Yang sholatnya adalah bekal dirinya,
Yang tidak pernah takut untuk berkata benar,
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu,
Yang senantiasa bersama para mujahiddah Alloh…
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menjaga tutur katanya,
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya,
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya,
Yang senatiasa berbuat kebajikan karena sifatnya yang penyayang,
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jahat…
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menghormati suaminya.
Yang senantiasa berbakti kepada orang tua dan keluarga,
Yang bakal menjaga kerukunan rumahtangga,
Yang akan mendampingi suami dalam mendidik anak-anaknya untuk mendalami Islam,
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan,
Karena dunia baginya adalah rumah sementara menuju akhirat…
Jadilah seorang wanita sholihah,
Yang senantiasa bersedia untuk menjadi makmum imamnya
Yang hidup di bawah naungan al-Quran dan qona'ah
Yang tidak dikotori dengan perhiasan dunia
Yang menjaga matanya dari berbelanja,
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya.
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang selalu menjaga lisan, penyayang keluarga & suaminya,
Matanya kepenatan karena membaca al-Quran,
Suaranya lesu karena penat berzikir,
Tidurnya lelap dengan cahaya keimanan,
Bangunnya Subuh penuh kesigapan
Karena dia sadar betapa indahnya menjadi wanita sholihah melebihi perhiasan apapun didunia
Semakin sadar bertambah usianya bertambah kematangannya
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang senantiasa mengabdikan diri untuk menjadi mujahiddah Alloh
Yang baginya hidup di dunia adalah ladang akhirat,
Yang mana buah kehidupan itu perlu dipelihara dan dijaga,
Agar tumbuh putik tunas yang bakal menjaga dirinya di alam baqo'
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian.
Jadilah seorang wanita sholihah
Yang tidak terpesona dengan buaian dunia,
Karena dia memimpikan syurga Alloh.
Semoga senantiasa dirahmati-Nya... Aamiin....
Rabu, 01 Desember 2010
asmaul husna latin
ASMAUL HUSNA
Bismillahi bada’na Walhamdu lirobbina
Wassholatu wa salam Lin nabi habibina
Ya allah ya robbana Anta maksuduna
Ridhloka mathlubuna Dunyana wa uhrona
Ya rohmanu ya rohim Ya maliku ya kuddus
Ya salamu ya mukmin Ya muhaiminu ya aziz
Ya jabber mutakabbir Ya kholiqu ya bari’
Ya mushowwiru ya ghoffar Ya kohharu ya wahhab
Ya rozzaqu ya Fattah Ya ‘alimu ya qobid
Ya basitu ya khofidz Ya rofi’u ya mu’iz
Ya mudzillu ya sami’ Ya basiru ya hakam
Ya ‘adlu ya lathifu Ya khobiru ya halim
Ya ‘adzimu ya ghofur Ya sakuru ya ‘aliy
Ya kabiru ya hafidz Ya muqitu ya hasib
Ya jalilu ya karim Ya roqibu ya mujib
Ya wasi’u ya hakim Ya wadudu ya majid
Ya ba’itsu ya syahid Ya haqqu ya wakilu
Ya qowiyyu ya matin Ya waliyyu ya hamid
Ya muhsi ya mubdi’u Ya mu’idu ya muhyi
Ya mumitu ya hayyu Ya qoyyumu ya wajid
Ya majidu ya wahid Ya ahadu ya shomad
Ya qodir ya muqtadir Ya muqoddim ya muakhir
Ya awwalu ya akhir Ya dhohiru ya bathin
Ya wali muta’aly Ya barru ya tawwabu
Ya muntaqimu ya ‘afuw Ya roufu ya malik
Malikal mulki Ya dzal jalali wal ikrom
Ya muqsitu ya jami’ Ya ghoniyyu ya mughniy
Ya mani’u ya dhooru Ya nafi’u ya nuuru
Ya hadi ya badi’ Ya baqi ya warits
Ya rosyidu ya shobur ‘azza jalla dzikruhu
DOA
Bi asmaikal husna Ighfir lana dzunubana
Wa liwalidina Wa dzurruyyatina
Wa limasayihina Wa talamidzina
Wa jami’in ahlina Wa manit taba’ana
Wal muslimin Wal muslimat
Wal mukminin Wal mukminat
Kaafatan ‘ammatan Al ahyai wal amwat
Kaffir ‘an sayyiatina Wastur ‘ala ‘uyubina
Wajbur ‘ala nuksonina Warfa’ darojatina
Wa zidna ‘ilman nafi’an Wa rizqon wasi’an
Halalan thoyyiban Wa ‘amalan sholihan
Wa nawwir qulubana Wa yassir umurona
Wa sohhih ajsadana Daima hayatina
Ilal khoiri korribna ‘annis syarri ba’idna
Wal qurba roja una Akhiron nilnal muna
Balligh maqosidana Waqdhi hawaijana
Wal hamdu li ilahina Alladzi hadana
Sholli wassallim ‘ala Toha kholilir rohman
Wa alihi wa sohbihi Ila akhiriz zaman
Bismillahi bada’na Walhamdu lirobbina
Wassholatu wa salam Lin nabi habibina
Ya allah ya robbana Anta maksuduna
Ridhloka mathlubuna Dunyana wa uhrona
Ya rohmanu ya rohim Ya maliku ya kuddus
Ya salamu ya mukmin Ya muhaiminu ya aziz
Ya jabber mutakabbir Ya kholiqu ya bari’
Ya mushowwiru ya ghoffar Ya kohharu ya wahhab
Ya rozzaqu ya Fattah Ya ‘alimu ya qobid
Ya basitu ya khofidz Ya rofi’u ya mu’iz
Ya mudzillu ya sami’ Ya basiru ya hakam
Ya ‘adlu ya lathifu Ya khobiru ya halim
Ya ‘adzimu ya ghofur Ya sakuru ya ‘aliy
Ya kabiru ya hafidz Ya muqitu ya hasib
Ya jalilu ya karim Ya roqibu ya mujib
Ya wasi’u ya hakim Ya wadudu ya majid
Ya ba’itsu ya syahid Ya haqqu ya wakilu
Ya qowiyyu ya matin Ya waliyyu ya hamid
Ya muhsi ya mubdi’u Ya mu’idu ya muhyi
Ya mumitu ya hayyu Ya qoyyumu ya wajid
Ya majidu ya wahid Ya ahadu ya shomad
Ya qodir ya muqtadir Ya muqoddim ya muakhir
Ya awwalu ya akhir Ya dhohiru ya bathin
Ya wali muta’aly Ya barru ya tawwabu
Ya muntaqimu ya ‘afuw Ya roufu ya malik
Malikal mulki Ya dzal jalali wal ikrom
Ya muqsitu ya jami’ Ya ghoniyyu ya mughniy
Ya mani’u ya dhooru Ya nafi’u ya nuuru
Ya hadi ya badi’ Ya baqi ya warits
Ya rosyidu ya shobur ‘azza jalla dzikruhu
DOA
Bi asmaikal husna Ighfir lana dzunubana
Wa liwalidina Wa dzurruyyatina
Wa limasayihina Wa talamidzina
Wa jami’in ahlina Wa manit taba’ana
Wal muslimin Wal muslimat
Wal mukminin Wal mukminat
Kaafatan ‘ammatan Al ahyai wal amwat
Kaffir ‘an sayyiatina Wastur ‘ala ‘uyubina
Wajbur ‘ala nuksonina Warfa’ darojatina
Wa zidna ‘ilman nafi’an Wa rizqon wasi’an
Halalan thoyyiban Wa ‘amalan sholihan
Wa nawwir qulubana Wa yassir umurona
Wa sohhih ajsadana Daima hayatina
Ilal khoiri korribna ‘annis syarri ba’idna
Wal qurba roja una Akhiron nilnal muna
Balligh maqosidana Waqdhi hawaijana
Wal hamdu li ilahina Alladzi hadana
Sholli wassallim ‘ala Toha kholilir rohman
Wa alihi wa sohbihi Ila akhiriz zaman
Kamis, 18 November 2010
ISLAM MODERN DI MESIR PEMIKIRAN JAMALUDIN AL-AFGHANI (PAN ISLAMISME)
A. PENDAHULUAN
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri system kekhalifahan Abbasyiyah di sana, tetapi juga merupakan masa awal dari kemunduran politik dan peradaban Islam. Karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.
Setelah itu, seiring dengan perjalanan waktu, maka dengan secara signifikan bangsa Barat menjadi semakin maju dan modern. Hal ini disebabkan karena mereka mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan yang mereka rampas dari kota seribu satu malam itu sendiri.
Pada tahun 1801 M bersamaan dengan berakhirnya ekspedisi Napoleon di Mesir telah membuka mata dunia Islam terutama Turki dan Mesir akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. Maka raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mencari jalan untuk mengembangkan balance of power yang telah pincang dan membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat saai itu berlainan dengan kontak Islam dengan Barat di periode klasik. Pada periode klasik, Islam berada pada masa kejayaannya dan Barat sedang dalam kegelapan. Namun keadaan itu menjadi terbalik, Islam sedang dalam kegelapan dan Barat semakin maju dan Islam yang ingin belajar dari Barat.
Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikirinnya bagaimanakah cara membuat umat Islam maju kembali seperti pada masa periode klasik. Usaha kearah itupun mulai dijalankan dalam kalangan umat Islam. Meski di sisi lain, Barat juga bertambah maju dan Islam semakin ketinggalan.
Pada abad ke-19 inilah seruan pembaharuan itu bangkit di Negara Mesir yang dipelopori oleh seorang tokoh bernama Sayid Jamaludin Al-Afghani. Dalam misi pembaharuannya, ia lebih manitikberatkan pada antiimperialisme yang bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari penindasan penjajah (Barat) serta memperbaiki status kehidupan masyarakat yang statis menjadi dinamis. Berikut akan dijelaskan mengenai sekilas profil dan pemikirannya dalam memperjuangkan pembaharuan Islam.
B. PROFIL JAMALUDIN AL-AFGHANI
Jamaludin Al-Afghani As-Sayid Muhammad bin Shaftar Al-Husain lahir di Asadabad, Konar, Distrik Kabul, Afghanistan tahun 1838 M. Ia adalah tokoh terkemuka yang menjadi sentral figure umat Islam pada abad XIX. Keluarganya adalah keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib yang selanjutnya silsilahnya bertemu dengan keturunan ahli sunnah yang termasyhur Ali At-Tirmidzi.
Al-Afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India bahkan sampai ke Paris. Pada usia 18 tahun di Kabul, Ia tidak hanya menguasai ilmu keagamaan seperti bahasa Arab, balaghah, tasawuf, manteq, tetapi juga mendalami falsafah, hukum, sejarah, matematika, ilmu hitung, ilmu obat anatomi, metafisika, kedokteran, sains, astronomi, dan astrologi.
Dia seorang yang sangat cerdas, jauh melampaui remaja-remaja seusianya. Setelah menguasai berbagai disiplin ilmu, Al-Afghani berkelana ke India selama satu setengah tahun. Ia seorang orator yang tangguh, mendorong rakyat India untuk bangkit melawan kekuasaan Inggris. Hasilnya, pada tahun 1857 muncul kesadaran baru dikalangan pribumi India melawan penjajah.
Di Kabul, seusai menunaikan haji di Mekkah, Al-Afghani diminta Pangeran Dost Muhammad Khan, untuk membantunya. Tahun 1864, Ia diangkat menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi perdana oleh Muhammad A’zam Khan. Namun karena campur tangan Inggris dan kekalahannya atas golongan yang disokong Inggris, Al-Afghani akhirnya meninggalkan Kabul ke Mekah dan dilanjutkan bertandang ke Mesir dan menetap untuk beberapa waktu disana. Selama di Mesir itu ia mendapat kesempatan mengunjungi Al-Azhar, dimana ia mendapatkan tanda penghargaan dari Universitas Al-Azhar. Banyak kalangan terpelajar yang menyambut meriah kedatangannya sehingga dapat mempengaruhi Muhammad Abduh yang kemudian menjadi muridnya dan akhirnya menjadi ulama pembaharuan dalam Islam.
Pada mulanya Jamaludin menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatiannya pada bidang ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Namun melihat campur tangan Inggris dalam soal politik di Mesir, ia terdorong untuk terjun ke dalam kegiatan politik dan membentuk partai politik dengan nama Hizbu Al-Watani (Partai Kebangsaan). Dengan partai ini ia berusaha menanamkan kesadaran nasionalisme dalam diri orang-orang Mesir. Partai ini juga memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, dan memasukkan unsure-unsur mesir ke dalam posisi militer.
Pemikirannya antiimperialis dan kolonialis menyebabkan pada tahun 1879 ia diusir dari Mesir dan untuk kedua kalinya ia pergi ke India. Di sana ditulisnya buku “The Refutation of The Materialistis” (Pembuktian Kesalahan Kaum Materialis) suatu pembelaan Islam atas serangan dan tantangan dunia modern. Al-Afghani sempat ditangkap oleh Inggris karena munculnya pemberontakan arabi di Mesir. Setelah dibebaskan, ia pergi ke London hanya beberapa hari dan kemudian pergi ke Paris. Inilah masa kegemilangannya, dimana ia terlibat dalam perdebatan dengan filosof termasyhur Ernist Renan tentang “Islam dan Ilmu” pada tahun 1883 M.
Tahun berikutnya ia mampu menerbitkan majalah mingguan atau jurnal yang berjudul Al-‘Urwah Al-Wutsqa (ikatan yang kuat) bersama muridnya Muhammad Abduh. Nama jurnal tersebut juga nama perkumpulannya yang beranggotakan orang Islam dari India, Mesir, Suriah, afrika Utara, dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk memperkuat rasa persaudaraan Islam, membela islam, dan membawa umat Islam pada kemajuan.
Jurnal ini mendapat kecaman keras dari Barat akhirnya penguasa Barat melarang jurnal ini diedarkan di Negara-negara Muslim karena dkhawatirkan dapat menimbulkan semgangat persatuan Islam. karena dilarang diedarkan, usia jurnal ini hanya delapan bulan. Meski umurnya singkat, majalah ini telah berpengaruh pada seluruh dunia Islam.
Di Eropa, aktifitas Jamaludin tidak hanya di Paris. Ia berdiskusi tentang Islam di London, diantaranya dengan Lord Salisbury yang berkuasa ketika itu. Dia juga pergi ke Rusia membangun pengaruh dikalangan cendekiawan Rusia dan menjadi orang kepercayaan Tsar. Karena pengaruhnya itu, Rusia memperkenankan orang Islam mencetak Al-Qur’an dan buku-buku Islam, yang sebelumnya dilarang.
Perjuangan Al-Afghani sampai juga di Persia. Penguasa Persia, Shah Nasirudin Qachar, manawarkan posisi perdana menteri dan ia menerimanya. Ide-ide pembaharuan Islam, membuatnya semakin popular di Persia. Ini mengkhawatirkan Nasirudin, apalagi Jamaludin terang-terang mengkritik praktek-praktek kekuasaan penguasa Persia itu. Jamaludin akhirnya ditangkap dan diusir. Namun, kesadaran rakyat telah bangkit untuk menumbangkan Nasirudin. Setelah itu ia mengadakan kunjungan singkat ke Inggris dan menerbitkan buku yang kedua yang berjudul “Splendour of The Hemispheres” (Kemegahan Dua Penjuru Dunia).
Dalam sakit ia menerima undangan dari Sultan Turki Sultan Abdul Hamid, khalifah Ustmaniyah untuk berkunjung sebagai tamu ke Istambul, Turki. Ketika itu, Sultan ingin memanfaatkan pengaruh Jamaludin atas Negara-negara Islam untuk menentang Eropa, yang ketika itu mendesak kedudukan kekhilafahan Ustmaniyah di Timur Tengah. Namun upaya Sultan itu gagal, karena keduanya ternyata berbeda pendapat yang cukup tajam. Sultan tetap mempertahankan kekuatan otokrasi lama yang ortodoks, sementara Jamaludin mencoba memasukkan ide-ide pembaharuan dalam pemerintahan. Lalu Sultan membatasi kegiatan-kegiatan Jamaludin dan melarangnya keluar Istambul, sampai ajal menjemputnya. Inilah akhir perjalanan hidup Jamaludin Al-Afghani. Ia wafat di Istambul, pada 9 Maret 1897 dalam usia 59 tahun.
Sepanjang hayatnya, Jamaludin telah menulis puluhan karya tulis dan buku, antara lain Pembahasan Tentang Sesuatu yang Melemahkan Orang-rang Islam, Tipu Muslihat Orientalis Risalah untuk Menjawab Golongan Kristen, Hilangnya Timur dan Barat, Hakikat Manusia, dan Hakikat Tanah air.
C. AJARAN-AJARANNYA
1. Bidang Politik
Jamaludin dikenal sebagai pelopor Pan Islamisme yang mengajarkan bahwa semua umat Islam harus bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah untuk membebaskan mereka dari penjajahan Barat. Ada pendapat bahwa Jamaludin hanya sedikit mempersoalkan masalah agama, ia lebih berkecimpung dalam lapangan politik. Jalan yang ditempuhnya di bidang ini, ialah :
a. Perbaikan jiwa dan cara berfikir
b. Perbaikan pemerintah atau Negara, kemudian keduanya berhubungan atau mempunyai jalinan dengan ajaran agama.
Jamaludin memandang bahwa perbaikan pemerintahan adalah dengan jalan memperbaiki bangsa itu. Ia juga mengatakan bahwa sesungguhnya kekuatan parlemen bagi suatu umat tidak akan ada harganya apabila tidak lahir dari umat itu sendiri. Dalam segi politik pergerakan bertujuan menghilangkan sebab-sebab yang memecah belah kaum muslim dan mempersatukan mereka untuk mempertahankan Islam. Untuk mencapai tujuan itu, maka kaum muslim harus bersatu. Persatuan Islam (Pan Islamisme), bukan berarti dunia dan kerajaan Islam yang ada menjadi satu kerajaan tapi masing-masing kerajaan itu agar berdiri sendiri dalam batas kuasa dan negara masing-masing yang mempunyai satu pandangan hidup.
Semua aspek gerakan Jamaludin yang menjadi sasaran utama ialah membebaskan negara-negara Islam dari penjajahan dan untuk menuju itu umat Islam harus membebaskan diri dari pola-pola pikiran yang beku.
2. Bidang Agama
Meski Al-Afghani menjadi pemimpin politik, ia juga berjasa dalam meninggikan kedudukan agama dengan menjadi mujahid, pembaharu akal umat Islam yang sangat dipengaruhi tradisi-tradisi dan kurafat-kurafat yang membawa kejumudan umat Islam waktu itu.
Al-Afghani berpendapat bahwa agama adalah suatu yang fital adanya suatu bangsa. Dan agama merupakan sumber yang nyata yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Peradaban yang sesungguhnya adalah peradaban yang berdasarkan pendidikan moral dan agama, bukan peradaban yang berdasarkan karena kemajuan materi dan pembangunan kota-kota besar atau penciptaan mesin-mesin modern yang justru digunakan untuk menghancurkan peradaban dan pembinasaan umat manusia dengan bentuk penjajahan. Banyak usaha yang telah dilakukannya dalam melawan penjajah , antara lain:
a. Membangun kembali jiwa Islam yang terkandung dalam ajaran Al-Qur’an
b. Menghilangkan sifat kesukuan atau golongan
c. Mrngikis taqlid dan fanatisme
d. Melaksanakan ijtihad dalam memahami A-Qur’an
Ia juga mengutarakan bahwa kesejahteraan umat manusia itu tergantung pada :
a. Akal manusia yang disinari dengan tauhid
b. Kemuliaan budi pekerti
c. Akidah (iman) yang dijadikan sebagai prinsip yang pertama
d. Loyalitas orang yang berilmu dalam membagikan ilmunya pada orang lain
Dengan demikian, diharapkan umat Islam dapat kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang murni, yang membawa kepada kekuatan yang positif dalam langkah dan sasaran yang akan dituju.
3. Ajaran tentang Qada dan Qadar
Kesalahan umat Islam dalam memahami qadha dan qadar menurut Al-Afghani, menjadi factor yang ikut memundurkan umat Islam. kesalahpahaman tersebut membuat umat Islam tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaludin menyebutkan, qadha dan qadar mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang terjadi menurut sebab musabab (kausalitas). Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat tentang dasar-dasar ajaran agama, lemahnya persaudaraan, perpecahan umat Islam yang diikut pemerintahan yang absolut, memercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dipercaya, dan kurangnya pertahanan militer, juga merupakan factor-faktor yang membawa kemunduran umat Islam. Faktor-faktor ini yang menjadikan umat Islam statis dan fatalis.
Maka dari itu, ia menuntut kepada semua aliran untuk menjadikan akal sebagai dasar utama untuk mencapai keagungan Islam, karena akal menempati kedudukan yang istimewa dalam agama Islam. Dengan akal percaya pada qadha dan qadar bagi orang Islam akan membawa kekuatan moral dan mendorong usaha tawakal dan sabar untuk mencapai tujuannya.
4. Penolakan terhadap Aliran Naturalisme dan Materialisme
Perjalanan hidup Jamaludin sesuai dengan jalan pikirannya. Teori dan prakteknya selalu berjalin rapat dengan tindakannya. Kedudukan dan pikirannya ditandai oleh tiga macam keadaan :
a. Kenikmatan jiwa atau rohani
b. Perasaan agama yang mendalam
c. Moral yang tinggi
Gambaran ini jelas dapat dilihat dalam penolakannya terhadap aliran naturalisme dan materialisme. Aliran ini merupakan senjata berbahaya bagi umat Islam. satu-satunya kekuatan yang dapat melawannya ialah Islam itu sendiri. Inilah peringatan yang dicanangkan oleh Jamaludin pada orang-orang Islam, bila ingin mempertahankan agama itu, maka harus bertindak sesuai dengan ajaran agama itu.
Jamaludin terkenal dalam dunia Islam sebagai propagandaris karena penolakannya terhadap materialisme. Dengan pandangannya terhadap tabiat alam, ia tidak bisa menerima corak ajaran materialisme. Untuk itu ia menerbitkan sebuah buku dengan judul The Refutation Of Materialistis.
D. PAN-ISLAMISME
Sebagaimana yang diungkapkan L. Stoddard, dasar pergerakan yang diusung oleh Al-Afghani lebih pada usaha pembendungan dominasi Barat yang mulai menjelajahi dunia Islam. Setidaknya ada lima poin penting yang menjadi pemicu utama munculnya pemikiran pan-islamisme, yaitu :
a) Dunia kristen, walaupun terpisah secara geografis, budaya dan nasab namun akan selalu menggalang pemersatuan kekuatan untuk menghadapi umat Islam.
b) Meskipun secara gamblang perang salib telah tuntas, namun semangat dan ideologi untuk selalu mengobarkan lagi, tetap hidup di kalangan umat Kristen. Hal ini bisa dibuktikan melalui perlakuan diskriminatif umat Kristen kepada umat Islam di beberapa tempat.
c) Perbedaan pemahaman tentang agama yang sangat berbeda antara agama Islam dan agama lainnya.
d) Al-Afghani menyimpulkan bahwa kebencian umat Kristen terhadap umat Islam bukan hanya datang darui sebagian umat kristen namun berasal dari semua lapisan masyarakat.
e) Kurangnya apresiasi dunia kepada umat Islam, khususnya umat Kristen pada beberapa ideologi fital agama Islam.
Dengan berbagai pertimbangan yang diantaranya telah disebutkan di atas, maka Al-Afghani menggulirkan pemikiran tentang perlunya pemersatuan umat Islam yang selanjutnya dikenal dengan nama pan-Islamisme. Tujuan pasti al-Afghani adalah melakukan filter dini kepada gejala perpecahan yang telah kelihatan pada zaman itu.
Di beberapa keadaan, pan-Islamisme sering dikaitkan dengan usaha modernisasi Islam yang juga diusung oleh al-Afghani dan murid-muridnya seperti Muhammad Abduh, dkk. Pada dasarnya dua paham ini bukanlah sinonim, lebih tepatnya modernisasi adalah gejala atau sarana dari pan-Islamisme. Munculnya kegiatan pembaharuan dalam agama Islam adalah aplikasi nyata dari program pan-Islamisme yang ditawarkan oleh al-Afghani.
Secara individu Afghani adalah penolak keras adanya paham kolonial yang menghantui hampir di semua dunia Islam di kala itu. Sebagai seorang filsuf dan agamis sikap dan pemikiran Afghani selalu berbenturan dengan paham fatalisme (berhubungan dengan takdir). Untuk mengetengahi masalah fatalism dalam agama Islam, Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan usaha perebutan peradaban, kebudayaan dan pengetahuan dari barat. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari semua itu dari barat. Diharapkan dari semua sikap ini maka umat Islam lebih bersifat dinamis dan mampu melakukan kritik sosial dalam menghadapi perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan.
Melalui propaganda yang rapi apalagi didukung oleh Sultan Abdul Hamid dari Turki Utsmani yang mendirikan organisasi seruan pan-Islamisme dan pengiriman delegasi ke Negara-negara Islam selama 30 tahun. Hubungan paling kongkrit antara pan-Islamisme dengan modernisasi Islam terlihat pada pandangan kenegaraan yang diusulkan oleh Afghani dan murid-muridnya. Memang harus diakui, pemerintahan Negara atau kerajaan Islam yang dimulai dari masa Kekhalifaan Utsmani memiliki konsen yang sangat besar kepada bentuk negara atau kerajaan dengan system monarki absolut. Sehingga Afghani menawarkan system demokrasi sebagai jalan keluar yang tepat sebagai bentuk ideal negara Islam. Lebih kongkritnya Afghani bahkan memberikan pertimbangan untuk memakai sistem pemerintahan republik. Bahkan lebih jauh Afghani menyatakan bahawa sebenarnya Islam menghendaki penggunaan sistem pemerintahan republik bagi umat Muslim.
Dasar pendapat yang dikeluarkan oleh Afghani ini terbentuk oleh berbagai stigma yang terkumpul dari lawatan panjang Afghani ke beberapa negara Eropa sebelumnya. Menurut Afghani keunggulan sistem republik adalah kebebasan dalam mengedepankan pendapat dan kesamaan status dalam hukum dan pemerintahan. Ditambah lagi republik sangat menjaga hubungan kepala negara dengan Undang-undang negara. Lebih jelasnya, sistem republik sangat memperhatikan kepatuhan antara kepala pemerintahan dengan undang-undang yang dibuat oleh sebuah Negara. Pendapat yang diusulkan oleh Afghani ini tentu merupakan hal baru dalam perkembangan agama Islam. Sebelum munculnya gagasan Afghani ini Islam dan lingkungan hanya mengenal sistem pemerintahan kerajaan atau kesultanan.
Secara mudah bisa dijelaskan hubungan antara pan-Islamisme dan modernisasi Islam ini dengan wacana bahwa Pan-Islamisme Al-Afghani adalah sebuah gerakan pemersatu antar Negara-negara Islam termasuk umat Islam di wilayah jajahan untuk menentang kezaliman para pengusa (penjajah ekstern atau intern) yang lalim, termasuk menentang kolonialisme dan imperialisme Barat sebagai bentuk usaha untuk mewujudkan keadilan.
E. KESIMPULAN
Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Jamaludin Al-Afghani merupakan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam alur sejarah peradaban Islam. Sepanjang hidupnya telah diabdikan untuk berjuang demi kepentingan Islam, khususnya dan negeri-negeri yang sedang terjajah pada umumnya.
2. Program politiknya adalah menggerakkan Pan Islamisme yang bertujuan untuk kesejahteraan umat Islam di bawah pimpinan seorang khalifah.
3. Jamaludin berpendapat bahwa Islam memberikan tempat yang tinggi pada akal. Maka dari itu Ia sangat menentang adanya faham takdir.
4. Ia juga memperingatkan umat Islam bahwa bahaya besar kedua yang harus dihadapi umat Islam adalah materialisme, yang mengingkari agama dan anti tuhan.
5. Banyak karya yang lahir dari buah pikirnya yang ditujukan untuk mengobarkan semangat pembaharuan pada diri umat Islam.
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri system kekhalifahan Abbasyiyah di sana, tetapi juga merupakan masa awal dari kemunduran politik dan peradaban Islam. Karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.
Setelah itu, seiring dengan perjalanan waktu, maka dengan secara signifikan bangsa Barat menjadi semakin maju dan modern. Hal ini disebabkan karena mereka mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan yang mereka rampas dari kota seribu satu malam itu sendiri.
Pada tahun 1801 M bersamaan dengan berakhirnya ekspedisi Napoleon di Mesir telah membuka mata dunia Islam terutama Turki dan Mesir akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. Maka raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mencari jalan untuk mengembangkan balance of power yang telah pincang dan membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat saai itu berlainan dengan kontak Islam dengan Barat di periode klasik. Pada periode klasik, Islam berada pada masa kejayaannya dan Barat sedang dalam kegelapan. Namun keadaan itu menjadi terbalik, Islam sedang dalam kegelapan dan Barat semakin maju dan Islam yang ingin belajar dari Barat.
Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikirinnya bagaimanakah cara membuat umat Islam maju kembali seperti pada masa periode klasik. Usaha kearah itupun mulai dijalankan dalam kalangan umat Islam. Meski di sisi lain, Barat juga bertambah maju dan Islam semakin ketinggalan.
Pada abad ke-19 inilah seruan pembaharuan itu bangkit di Negara Mesir yang dipelopori oleh seorang tokoh bernama Sayid Jamaludin Al-Afghani. Dalam misi pembaharuannya, ia lebih manitikberatkan pada antiimperialisme yang bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari penindasan penjajah (Barat) serta memperbaiki status kehidupan masyarakat yang statis menjadi dinamis. Berikut akan dijelaskan mengenai sekilas profil dan pemikirannya dalam memperjuangkan pembaharuan Islam.
B. PROFIL JAMALUDIN AL-AFGHANI
Jamaludin Al-Afghani As-Sayid Muhammad bin Shaftar Al-Husain lahir di Asadabad, Konar, Distrik Kabul, Afghanistan tahun 1838 M. Ia adalah tokoh terkemuka yang menjadi sentral figure umat Islam pada abad XIX. Keluarganya adalah keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib yang selanjutnya silsilahnya bertemu dengan keturunan ahli sunnah yang termasyhur Ali At-Tirmidzi.
Al-Afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak berjuang di Mesir, India bahkan sampai ke Paris. Pada usia 18 tahun di Kabul, Ia tidak hanya menguasai ilmu keagamaan seperti bahasa Arab, balaghah, tasawuf, manteq, tetapi juga mendalami falsafah, hukum, sejarah, matematika, ilmu hitung, ilmu obat anatomi, metafisika, kedokteran, sains, astronomi, dan astrologi.
Dia seorang yang sangat cerdas, jauh melampaui remaja-remaja seusianya. Setelah menguasai berbagai disiplin ilmu, Al-Afghani berkelana ke India selama satu setengah tahun. Ia seorang orator yang tangguh, mendorong rakyat India untuk bangkit melawan kekuasaan Inggris. Hasilnya, pada tahun 1857 muncul kesadaran baru dikalangan pribumi India melawan penjajah.
Di Kabul, seusai menunaikan haji di Mekkah, Al-Afghani diminta Pangeran Dost Muhammad Khan, untuk membantunya. Tahun 1864, Ia diangkat menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi perdana oleh Muhammad A’zam Khan. Namun karena campur tangan Inggris dan kekalahannya atas golongan yang disokong Inggris, Al-Afghani akhirnya meninggalkan Kabul ke Mekah dan dilanjutkan bertandang ke Mesir dan menetap untuk beberapa waktu disana. Selama di Mesir itu ia mendapat kesempatan mengunjungi Al-Azhar, dimana ia mendapatkan tanda penghargaan dari Universitas Al-Azhar. Banyak kalangan terpelajar yang menyambut meriah kedatangannya sehingga dapat mempengaruhi Muhammad Abduh yang kemudian menjadi muridnya dan akhirnya menjadi ulama pembaharuan dalam Islam.
Pada mulanya Jamaludin menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatiannya pada bidang ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Namun melihat campur tangan Inggris dalam soal politik di Mesir, ia terdorong untuk terjun ke dalam kegiatan politik dan membentuk partai politik dengan nama Hizbu Al-Watani (Partai Kebangsaan). Dengan partai ini ia berusaha menanamkan kesadaran nasionalisme dalam diri orang-orang Mesir. Partai ini juga memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers, dan memasukkan unsure-unsur mesir ke dalam posisi militer.
Pemikirannya antiimperialis dan kolonialis menyebabkan pada tahun 1879 ia diusir dari Mesir dan untuk kedua kalinya ia pergi ke India. Di sana ditulisnya buku “The Refutation of The Materialistis” (Pembuktian Kesalahan Kaum Materialis) suatu pembelaan Islam atas serangan dan tantangan dunia modern. Al-Afghani sempat ditangkap oleh Inggris karena munculnya pemberontakan arabi di Mesir. Setelah dibebaskan, ia pergi ke London hanya beberapa hari dan kemudian pergi ke Paris. Inilah masa kegemilangannya, dimana ia terlibat dalam perdebatan dengan filosof termasyhur Ernist Renan tentang “Islam dan Ilmu” pada tahun 1883 M.
Tahun berikutnya ia mampu menerbitkan majalah mingguan atau jurnal yang berjudul Al-‘Urwah Al-Wutsqa (ikatan yang kuat) bersama muridnya Muhammad Abduh. Nama jurnal tersebut juga nama perkumpulannya yang beranggotakan orang Islam dari India, Mesir, Suriah, afrika Utara, dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk memperkuat rasa persaudaraan Islam, membela islam, dan membawa umat Islam pada kemajuan.
Jurnal ini mendapat kecaman keras dari Barat akhirnya penguasa Barat melarang jurnal ini diedarkan di Negara-negara Muslim karena dkhawatirkan dapat menimbulkan semgangat persatuan Islam. karena dilarang diedarkan, usia jurnal ini hanya delapan bulan. Meski umurnya singkat, majalah ini telah berpengaruh pada seluruh dunia Islam.
Di Eropa, aktifitas Jamaludin tidak hanya di Paris. Ia berdiskusi tentang Islam di London, diantaranya dengan Lord Salisbury yang berkuasa ketika itu. Dia juga pergi ke Rusia membangun pengaruh dikalangan cendekiawan Rusia dan menjadi orang kepercayaan Tsar. Karena pengaruhnya itu, Rusia memperkenankan orang Islam mencetak Al-Qur’an dan buku-buku Islam, yang sebelumnya dilarang.
Perjuangan Al-Afghani sampai juga di Persia. Penguasa Persia, Shah Nasirudin Qachar, manawarkan posisi perdana menteri dan ia menerimanya. Ide-ide pembaharuan Islam, membuatnya semakin popular di Persia. Ini mengkhawatirkan Nasirudin, apalagi Jamaludin terang-terang mengkritik praktek-praktek kekuasaan penguasa Persia itu. Jamaludin akhirnya ditangkap dan diusir. Namun, kesadaran rakyat telah bangkit untuk menumbangkan Nasirudin. Setelah itu ia mengadakan kunjungan singkat ke Inggris dan menerbitkan buku yang kedua yang berjudul “Splendour of The Hemispheres” (Kemegahan Dua Penjuru Dunia).
Dalam sakit ia menerima undangan dari Sultan Turki Sultan Abdul Hamid, khalifah Ustmaniyah untuk berkunjung sebagai tamu ke Istambul, Turki. Ketika itu, Sultan ingin memanfaatkan pengaruh Jamaludin atas Negara-negara Islam untuk menentang Eropa, yang ketika itu mendesak kedudukan kekhilafahan Ustmaniyah di Timur Tengah. Namun upaya Sultan itu gagal, karena keduanya ternyata berbeda pendapat yang cukup tajam. Sultan tetap mempertahankan kekuatan otokrasi lama yang ortodoks, sementara Jamaludin mencoba memasukkan ide-ide pembaharuan dalam pemerintahan. Lalu Sultan membatasi kegiatan-kegiatan Jamaludin dan melarangnya keluar Istambul, sampai ajal menjemputnya. Inilah akhir perjalanan hidup Jamaludin Al-Afghani. Ia wafat di Istambul, pada 9 Maret 1897 dalam usia 59 tahun.
Sepanjang hayatnya, Jamaludin telah menulis puluhan karya tulis dan buku, antara lain Pembahasan Tentang Sesuatu yang Melemahkan Orang-rang Islam, Tipu Muslihat Orientalis Risalah untuk Menjawab Golongan Kristen, Hilangnya Timur dan Barat, Hakikat Manusia, dan Hakikat Tanah air.
C. AJARAN-AJARANNYA
1. Bidang Politik
Jamaludin dikenal sebagai pelopor Pan Islamisme yang mengajarkan bahwa semua umat Islam harus bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah untuk membebaskan mereka dari penjajahan Barat. Ada pendapat bahwa Jamaludin hanya sedikit mempersoalkan masalah agama, ia lebih berkecimpung dalam lapangan politik. Jalan yang ditempuhnya di bidang ini, ialah :
a. Perbaikan jiwa dan cara berfikir
b. Perbaikan pemerintah atau Negara, kemudian keduanya berhubungan atau mempunyai jalinan dengan ajaran agama.
Jamaludin memandang bahwa perbaikan pemerintahan adalah dengan jalan memperbaiki bangsa itu. Ia juga mengatakan bahwa sesungguhnya kekuatan parlemen bagi suatu umat tidak akan ada harganya apabila tidak lahir dari umat itu sendiri. Dalam segi politik pergerakan bertujuan menghilangkan sebab-sebab yang memecah belah kaum muslim dan mempersatukan mereka untuk mempertahankan Islam. Untuk mencapai tujuan itu, maka kaum muslim harus bersatu. Persatuan Islam (Pan Islamisme), bukan berarti dunia dan kerajaan Islam yang ada menjadi satu kerajaan tapi masing-masing kerajaan itu agar berdiri sendiri dalam batas kuasa dan negara masing-masing yang mempunyai satu pandangan hidup.
Semua aspek gerakan Jamaludin yang menjadi sasaran utama ialah membebaskan negara-negara Islam dari penjajahan dan untuk menuju itu umat Islam harus membebaskan diri dari pola-pola pikiran yang beku.
2. Bidang Agama
Meski Al-Afghani menjadi pemimpin politik, ia juga berjasa dalam meninggikan kedudukan agama dengan menjadi mujahid, pembaharu akal umat Islam yang sangat dipengaruhi tradisi-tradisi dan kurafat-kurafat yang membawa kejumudan umat Islam waktu itu.
Al-Afghani berpendapat bahwa agama adalah suatu yang fital adanya suatu bangsa. Dan agama merupakan sumber yang nyata yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Peradaban yang sesungguhnya adalah peradaban yang berdasarkan pendidikan moral dan agama, bukan peradaban yang berdasarkan karena kemajuan materi dan pembangunan kota-kota besar atau penciptaan mesin-mesin modern yang justru digunakan untuk menghancurkan peradaban dan pembinasaan umat manusia dengan bentuk penjajahan. Banyak usaha yang telah dilakukannya dalam melawan penjajah , antara lain:
a. Membangun kembali jiwa Islam yang terkandung dalam ajaran Al-Qur’an
b. Menghilangkan sifat kesukuan atau golongan
c. Mrngikis taqlid dan fanatisme
d. Melaksanakan ijtihad dalam memahami A-Qur’an
Ia juga mengutarakan bahwa kesejahteraan umat manusia itu tergantung pada :
a. Akal manusia yang disinari dengan tauhid
b. Kemuliaan budi pekerti
c. Akidah (iman) yang dijadikan sebagai prinsip yang pertama
d. Loyalitas orang yang berilmu dalam membagikan ilmunya pada orang lain
Dengan demikian, diharapkan umat Islam dapat kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang murni, yang membawa kepada kekuatan yang positif dalam langkah dan sasaran yang akan dituju.
3. Ajaran tentang Qada dan Qadar
Kesalahan umat Islam dalam memahami qadha dan qadar menurut Al-Afghani, menjadi factor yang ikut memundurkan umat Islam. kesalahpahaman tersebut membuat umat Islam tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaludin menyebutkan, qadha dan qadar mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang terjadi menurut sebab musabab (kausalitas). Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat tentang dasar-dasar ajaran agama, lemahnya persaudaraan, perpecahan umat Islam yang diikut pemerintahan yang absolut, memercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dipercaya, dan kurangnya pertahanan militer, juga merupakan factor-faktor yang membawa kemunduran umat Islam. Faktor-faktor ini yang menjadikan umat Islam statis dan fatalis.
Maka dari itu, ia menuntut kepada semua aliran untuk menjadikan akal sebagai dasar utama untuk mencapai keagungan Islam, karena akal menempati kedudukan yang istimewa dalam agama Islam. Dengan akal percaya pada qadha dan qadar bagi orang Islam akan membawa kekuatan moral dan mendorong usaha tawakal dan sabar untuk mencapai tujuannya.
4. Penolakan terhadap Aliran Naturalisme dan Materialisme
Perjalanan hidup Jamaludin sesuai dengan jalan pikirannya. Teori dan prakteknya selalu berjalin rapat dengan tindakannya. Kedudukan dan pikirannya ditandai oleh tiga macam keadaan :
a. Kenikmatan jiwa atau rohani
b. Perasaan agama yang mendalam
c. Moral yang tinggi
Gambaran ini jelas dapat dilihat dalam penolakannya terhadap aliran naturalisme dan materialisme. Aliran ini merupakan senjata berbahaya bagi umat Islam. satu-satunya kekuatan yang dapat melawannya ialah Islam itu sendiri. Inilah peringatan yang dicanangkan oleh Jamaludin pada orang-orang Islam, bila ingin mempertahankan agama itu, maka harus bertindak sesuai dengan ajaran agama itu.
Jamaludin terkenal dalam dunia Islam sebagai propagandaris karena penolakannya terhadap materialisme. Dengan pandangannya terhadap tabiat alam, ia tidak bisa menerima corak ajaran materialisme. Untuk itu ia menerbitkan sebuah buku dengan judul The Refutation Of Materialistis.
D. PAN-ISLAMISME
Sebagaimana yang diungkapkan L. Stoddard, dasar pergerakan yang diusung oleh Al-Afghani lebih pada usaha pembendungan dominasi Barat yang mulai menjelajahi dunia Islam. Setidaknya ada lima poin penting yang menjadi pemicu utama munculnya pemikiran pan-islamisme, yaitu :
a) Dunia kristen, walaupun terpisah secara geografis, budaya dan nasab namun akan selalu menggalang pemersatuan kekuatan untuk menghadapi umat Islam.
b) Meskipun secara gamblang perang salib telah tuntas, namun semangat dan ideologi untuk selalu mengobarkan lagi, tetap hidup di kalangan umat Kristen. Hal ini bisa dibuktikan melalui perlakuan diskriminatif umat Kristen kepada umat Islam di beberapa tempat.
c) Perbedaan pemahaman tentang agama yang sangat berbeda antara agama Islam dan agama lainnya.
d) Al-Afghani menyimpulkan bahwa kebencian umat Kristen terhadap umat Islam bukan hanya datang darui sebagian umat kristen namun berasal dari semua lapisan masyarakat.
e) Kurangnya apresiasi dunia kepada umat Islam, khususnya umat Kristen pada beberapa ideologi fital agama Islam.
Dengan berbagai pertimbangan yang diantaranya telah disebutkan di atas, maka Al-Afghani menggulirkan pemikiran tentang perlunya pemersatuan umat Islam yang selanjutnya dikenal dengan nama pan-Islamisme. Tujuan pasti al-Afghani adalah melakukan filter dini kepada gejala perpecahan yang telah kelihatan pada zaman itu.
Di beberapa keadaan, pan-Islamisme sering dikaitkan dengan usaha modernisasi Islam yang juga diusung oleh al-Afghani dan murid-muridnya seperti Muhammad Abduh, dkk. Pada dasarnya dua paham ini bukanlah sinonim, lebih tepatnya modernisasi adalah gejala atau sarana dari pan-Islamisme. Munculnya kegiatan pembaharuan dalam agama Islam adalah aplikasi nyata dari program pan-Islamisme yang ditawarkan oleh al-Afghani.
Secara individu Afghani adalah penolak keras adanya paham kolonial yang menghantui hampir di semua dunia Islam di kala itu. Sebagai seorang filsuf dan agamis sikap dan pemikiran Afghani selalu berbenturan dengan paham fatalisme (berhubungan dengan takdir). Untuk mengetengahi masalah fatalism dalam agama Islam, Afghani mengajak umat Islam untuk melakukan usaha perebutan peradaban, kebudayaan dan pengetahuan dari barat. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari semua itu dari barat. Diharapkan dari semua sikap ini maka umat Islam lebih bersifat dinamis dan mampu melakukan kritik sosial dalam menghadapi perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan.
Melalui propaganda yang rapi apalagi didukung oleh Sultan Abdul Hamid dari Turki Utsmani yang mendirikan organisasi seruan pan-Islamisme dan pengiriman delegasi ke Negara-negara Islam selama 30 tahun. Hubungan paling kongkrit antara pan-Islamisme dengan modernisasi Islam terlihat pada pandangan kenegaraan yang diusulkan oleh Afghani dan murid-muridnya. Memang harus diakui, pemerintahan Negara atau kerajaan Islam yang dimulai dari masa Kekhalifaan Utsmani memiliki konsen yang sangat besar kepada bentuk negara atau kerajaan dengan system monarki absolut. Sehingga Afghani menawarkan system demokrasi sebagai jalan keluar yang tepat sebagai bentuk ideal negara Islam. Lebih kongkritnya Afghani bahkan memberikan pertimbangan untuk memakai sistem pemerintahan republik. Bahkan lebih jauh Afghani menyatakan bahawa sebenarnya Islam menghendaki penggunaan sistem pemerintahan republik bagi umat Muslim.
Dasar pendapat yang dikeluarkan oleh Afghani ini terbentuk oleh berbagai stigma yang terkumpul dari lawatan panjang Afghani ke beberapa negara Eropa sebelumnya. Menurut Afghani keunggulan sistem republik adalah kebebasan dalam mengedepankan pendapat dan kesamaan status dalam hukum dan pemerintahan. Ditambah lagi republik sangat menjaga hubungan kepala negara dengan Undang-undang negara. Lebih jelasnya, sistem republik sangat memperhatikan kepatuhan antara kepala pemerintahan dengan undang-undang yang dibuat oleh sebuah Negara. Pendapat yang diusulkan oleh Afghani ini tentu merupakan hal baru dalam perkembangan agama Islam. Sebelum munculnya gagasan Afghani ini Islam dan lingkungan hanya mengenal sistem pemerintahan kerajaan atau kesultanan.
Secara mudah bisa dijelaskan hubungan antara pan-Islamisme dan modernisasi Islam ini dengan wacana bahwa Pan-Islamisme Al-Afghani adalah sebuah gerakan pemersatu antar Negara-negara Islam termasuk umat Islam di wilayah jajahan untuk menentang kezaliman para pengusa (penjajah ekstern atau intern) yang lalim, termasuk menentang kolonialisme dan imperialisme Barat sebagai bentuk usaha untuk mewujudkan keadilan.
E. KESIMPULAN
Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Jamaludin Al-Afghani merupakan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam alur sejarah peradaban Islam. Sepanjang hidupnya telah diabdikan untuk berjuang demi kepentingan Islam, khususnya dan negeri-negeri yang sedang terjajah pada umumnya.
2. Program politiknya adalah menggerakkan Pan Islamisme yang bertujuan untuk kesejahteraan umat Islam di bawah pimpinan seorang khalifah.
3. Jamaludin berpendapat bahwa Islam memberikan tempat yang tinggi pada akal. Maka dari itu Ia sangat menentang adanya faham takdir.
4. Ia juga memperingatkan umat Islam bahwa bahaya besar kedua yang harus dihadapi umat Islam adalah materialisme, yang mengingkari agama dan anti tuhan.
5. Banyak karya yang lahir dari buah pikirnya yang ditujukan untuk mengobarkan semangat pembaharuan pada diri umat Islam.
Selasa, 16 November 2010
idul adha
I D U L A D H A
ARIS HIELMY MUBAROK S.PD.I
اَلحَْمْدُ ِللهِ اَّلذِي اْختاَر خليله حيث امره بذبح ولده فى المنام وجعله له تقربا قربانا نحمده على ما عامله معاملة الاحبة بالاحسان وجعل هذا اليوم عظيم القدر وعيدا جليل الشعر وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ.وَاَشْهَدُاَنَّ محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الى اخر الزمان.اَللّـهُــمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ.وَعَلَى الـِهِ وَصَحْبِهِ صلاة وسلاما دائمين متلازمين على ممر الايام.
اَمَّابَعْدُ، فـَـيَااَيـّــُـهَااْالحاضرون رَحِمَكُمُ اللهُ.اُوْصِيْكُمْ وَنفسى بــِتــقْوَى الذي انعم علينا بالايمان والاسلام
Hadirin !
Sedoyo puji kagunganipun Allah, ingkang paring cobi, ujian, dhateng kawulanipun. Cobi kolo wau ing lahiripun keraos awerat lan rekaos, nanging hakekatipun cobi utawi ujian kolo wau kangge nanting lan neter sepinten imanipun kawulo. Sahinggo menawi lulus, Allah pering tingkataning derajat, lan nyaketaken pribadini9pun kawulo dhateng rahmatipun Allah, kados ingkang sampun dipun ayahi dening Nabi Ibrahim a.s
الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر ولله الحمد
Hadirin !
Dinten puniko 10 dzulhijah, dening Allah dipun dadosaken dinten ageng, hari raya. Ingkang ing dinten puniko katambah tigang dinten malih (dinte tasyriq) kito dipun haromaken siyam.
Dene amal-amal pengibadahan ingkang dipun anjuraken ing dinten ageng puniko :
1. solat idul adha
Sak derengipun, kito dipun sunatake reresik langkung rumiyin mawi siram, sikatan/siwakan, ngagem ageman ingkang sae, ugi wangi-wangian lajeng tindak masjid, nindaaken solat id sesarengan utawi jama’ah, lan mirengake khutbah. Toto coro mekaten kolo wau mengku piwucal bilih, ing saklebetipun kito gesang bebrayan, bermasyarakat, gesang sesrawungan kalian keluarga, tonggo tepalih, sanak kadang, keluarga masyarakat sanesipun, sampun ngantos mirsani kawontenan uawisesrawungan ingkang mmboten ngeremaken, mambet gondo ingkang mmboten prayogi, ngraosaken ingkang mmboten sekeco, ugi merengaken ingkang mmboten wonten ginanipun
2. kito dipun sunatakn sodaqoh
Ing bab puniko Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ngendiko
ومن اطعم فيه مؤمنا او تصدق فيه بصدقة بعث الله يوم القيامة امنا
“Sopo bae kang aweh mangan/sodaqoh marang wong mu’min ono ing dino riyoyo ik, mbesok tangi soko kubur kanthi aman”
وكان ميزانه اثقل من جبل احد
“Lan tmbangan amal becike luwih abot katimbang gunung uhud”.
Bab puniko ugi mengku piwucal bilih ing saklebetipun gesang sesarengan, kito kedah peduli lingkungan, sambat sinambatan, tulung-tinulung, terutami sodaqoh sak kuwasanipu, langkung-langkung menawi pinuju kasisahan. Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngendiko :
ان الصدقة لتطفئ عن اهلهاحرالقبور وانما يستظل المؤمن يوم القيامة فى ظل صدقته
“Sodaqoh iku sayekti biso nyirep panase sekso kubur, lan besuk ing dinyo qiyamat wong mu’min iku mung biso ngiyup ono ing ayang-ayang sodaqohe” .
3. Kito dipun sunatake qurban
Qurban artosipun nyataaken pribadi dhateng Allah, kanthi masrahaken barang darbe ingkaqng dipun tresnani, arupi kewan, lembu utawi mendo. Dene lembu saget nyekapi qurbanipun tiyang pitu, lan mendo namung nyekaoi tiyang setunggal.
Dene hadis-hdis ingkang dhawuhaken bab qurban puniko, ing antawisipun ;
من خرج من بيته الى شراء الاضحية كان بكل خطوة عشرحسنة
“Sopo wae kang budal tuku kewan qurban, wiwit metu soko omahe, saben sak jangkahe ditulis amal becik sepuluh”.
ومحي عنه عشر سيئات ورفع عشر درجات
“Sepuluh amal alane dilebur/hapus lan sepuluh drajate ditingkatake”.
واذا تكلم فى شراءهاكان كلامه تسبيحا
“Naliko ngrembuk bab tetukune qurban, rembukan mau dianggep moco tasbih”.
واذا نقد ثماناكان له بكل درهم سبع مائة حسنة
“Naliko mbayar rgane, saben-saben durham utowo rupiahditulis dadi amal becik 700”.
واذا طرحهاعلى الارض يريد ذبحهااستغفر له كل خلق من موضعه الى الارض السابعة
“Naliko kewan mau arep dirubuhake arep disembeleh, kabeh makhluq, wiwit kangono panggonan sumelehe qurban nganti bumi sak pitu, podho nyuwunake ngapuro marang kang gawe qurban”.
واذااهرق دمهاخلق الله بكل قطرة من دمها عشرة من الملائكة يستغفرون له الى يوم القيامة
"Naliko getih qurban wes muncrat, saben sak tetes getih, Gusti Allah ndadeake malaikat 10, saperlu podho nyuwunake ngapuro marang kang gawe qurban, nganti dino qiamat”.
Kanjeng Nabi ugi ngendiko ;
عظموا ظحايكم فـإنــها على الصراط مطاياكم
“Gedekno kewan qurbanmu, jalaran qurban hku dadi tumpaanmu naliko ngliwati wot”.
Dene sejarahipun ibadah qurban puniko, kawiwitan naliko zaman Kanjeng Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dipunnuji dening Allah, sepinten ketaatipun dhateng Allah, kalih kadhawuhan mrogat putranipun ingkan langkung dipun tresnani, inggih puniko Nabi Ismail a.s. kados ingkang kasebat ing surat As-shofaat wiwit ayat 102-111 ;
فلما بلغ معه السعى قال يابنى انى ارى فى المنام انى اذبحك فانظر ماذا ترى
“Barang Ismail wis ngancik dewoso, Nabi Ibrahim ngendiko : anakku, ing sakjeroning impen ingsun kadhawuhan nyembeleh iro, mulo pikiren”.
قال : ياابت افعل ماتــؤمرستجدنى انشاءالله من الصابرين
“Nabi Ismail nuli matur : abah ! kulo aturi nindaaken punopo ingkang dipun perintahaken dhateng paduko, insyaallah paduko merisani bilih kulo kalebet golonganipu tiyang-tiyang ingkang sabar”.
Kacrios bilih sakderengipun kapragat Nabi Ismail ngasturake panyuwun 3 perkawis dhateng bapakipun :
1. Lading kaatunan ngasah ingkang landep.
2. Nyuwun supados wajah lan gulu dipun lurupi/tutup, supados bapake tegel lan tabah.
3. Dene rasukanipn mangke sak sampunipun gopak getih, kacaosno ibunipun minongko tondo pangabektos. Sareng sampun mapan, lading sampun sumeleh ing jenggot, astanipun Nabi Iabrahim lajeng mandek, mmboten saget nglampahaken lading. Malaikat Jibril dhateng mbekto mendo gibas saking suwargo, kapasrahaken dhateng Ibrahim kaaturn mragat, minongko tebusane Nabi Ismail a.s, Allah ngendiko:
ونادينه ان ياابراهيم قد صدقت الرؤياانا كذلك نجزى المحسنين
“Ingsun Allah nimbali : ibrahim ! temen-temen siro wus ngestoake dhawuh Ingsun ing sakjeroning impen, ing mengkono temen-temen ingsun paring pinwales marang wong-wong kang gawe kabecikas”.
ان هذا لهو البلاء المبين
“Saktemene iki sawijining ujian kang nyoto”.
وفديناه بذبح عظيم
“anakku Isma’il dak tebuss nganggo kewan sembelihan kang gede, arupo wedus”.
وتركنـاعليه فى الاخرين
“Ingsun langgengake kanggo Ibrahim pujian kang becik ing kalangane wong-wong kang sakbanjure”.
Hadirin !
Mekaten sejarahipun ibadah qurban, sahinggo kalanggengaken ngantos dados pengibadahipun umat Muhammad, kang nyaketaken pribadi dhateng Allah supados pikantuk rahmat soho maghfirohipun.
اَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّـيْطَانِ الرَّجِيْمِ انااعطينك الكوثر.
وَقُـلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنتَ خَيرُ الرَّاحمِين
ARIS HIELMY MUBAROK S.PD.I
اَلحَْمْدُ ِللهِ اَّلذِي اْختاَر خليله حيث امره بذبح ولده فى المنام وجعله له تقربا قربانا نحمده على ما عامله معاملة الاحبة بالاحسان وجعل هذا اليوم عظيم القدر وعيدا جليل الشعر وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ.وَاَشْهَدُاَنَّ محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الى اخر الزمان.اَللّـهُــمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ.وَعَلَى الـِهِ وَصَحْبِهِ صلاة وسلاما دائمين متلازمين على ممر الايام.
اَمَّابَعْدُ، فـَـيَااَيـّــُـهَااْالحاضرون رَحِمَكُمُ اللهُ.اُوْصِيْكُمْ وَنفسى بــِتــقْوَى الذي انعم علينا بالايمان والاسلام
Hadirin !
Sedoyo puji kagunganipun Allah, ingkang paring cobi, ujian, dhateng kawulanipun. Cobi kolo wau ing lahiripun keraos awerat lan rekaos, nanging hakekatipun cobi utawi ujian kolo wau kangge nanting lan neter sepinten imanipun kawulo. Sahinggo menawi lulus, Allah pering tingkataning derajat, lan nyaketaken pribadini9pun kawulo dhateng rahmatipun Allah, kados ingkang sampun dipun ayahi dening Nabi Ibrahim a.s
الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر ولله الحمد
Hadirin !
Dinten puniko 10 dzulhijah, dening Allah dipun dadosaken dinten ageng, hari raya. Ingkang ing dinten puniko katambah tigang dinten malih (dinte tasyriq) kito dipun haromaken siyam.
Dene amal-amal pengibadahan ingkang dipun anjuraken ing dinten ageng puniko :
1. solat idul adha
Sak derengipun, kito dipun sunatake reresik langkung rumiyin mawi siram, sikatan/siwakan, ngagem ageman ingkang sae, ugi wangi-wangian lajeng tindak masjid, nindaaken solat id sesarengan utawi jama’ah, lan mirengake khutbah. Toto coro mekaten kolo wau mengku piwucal bilih, ing saklebetipun kito gesang bebrayan, bermasyarakat, gesang sesrawungan kalian keluarga, tonggo tepalih, sanak kadang, keluarga masyarakat sanesipun, sampun ngantos mirsani kawontenan uawisesrawungan ingkang mmboten ngeremaken, mambet gondo ingkang mmboten prayogi, ngraosaken ingkang mmboten sekeco, ugi merengaken ingkang mmboten wonten ginanipun
2. kito dipun sunatakn sodaqoh
Ing bab puniko Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ngendiko
ومن اطعم فيه مؤمنا او تصدق فيه بصدقة بعث الله يوم القيامة امنا
“Sopo bae kang aweh mangan/sodaqoh marang wong mu’min ono ing dino riyoyo ik, mbesok tangi soko kubur kanthi aman”
وكان ميزانه اثقل من جبل احد
“Lan tmbangan amal becike luwih abot katimbang gunung uhud”.
Bab puniko ugi mengku piwucal bilih ing saklebetipun gesang sesarengan, kito kedah peduli lingkungan, sambat sinambatan, tulung-tinulung, terutami sodaqoh sak kuwasanipu, langkung-langkung menawi pinuju kasisahan. Kanjeng Nabi Muhammad SAW ngendiko :
ان الصدقة لتطفئ عن اهلهاحرالقبور وانما يستظل المؤمن يوم القيامة فى ظل صدقته
“Sodaqoh iku sayekti biso nyirep panase sekso kubur, lan besuk ing dinyo qiyamat wong mu’min iku mung biso ngiyup ono ing ayang-ayang sodaqohe” .
3. Kito dipun sunatake qurban
Qurban artosipun nyataaken pribadi dhateng Allah, kanthi masrahaken barang darbe ingkaqng dipun tresnani, arupi kewan, lembu utawi mendo. Dene lembu saget nyekapi qurbanipun tiyang pitu, lan mendo namung nyekaoi tiyang setunggal.
Dene hadis-hdis ingkang dhawuhaken bab qurban puniko, ing antawisipun ;
من خرج من بيته الى شراء الاضحية كان بكل خطوة عشرحسنة
“Sopo wae kang budal tuku kewan qurban, wiwit metu soko omahe, saben sak jangkahe ditulis amal becik sepuluh”.
ومحي عنه عشر سيئات ورفع عشر درجات
“Sepuluh amal alane dilebur/hapus lan sepuluh drajate ditingkatake”.
واذا تكلم فى شراءهاكان كلامه تسبيحا
“Naliko ngrembuk bab tetukune qurban, rembukan mau dianggep moco tasbih”.
واذا نقد ثماناكان له بكل درهم سبع مائة حسنة
“Naliko mbayar rgane, saben-saben durham utowo rupiahditulis dadi amal becik 700”.
واذا طرحهاعلى الارض يريد ذبحهااستغفر له كل خلق من موضعه الى الارض السابعة
“Naliko kewan mau arep dirubuhake arep disembeleh, kabeh makhluq, wiwit kangono panggonan sumelehe qurban nganti bumi sak pitu, podho nyuwunake ngapuro marang kang gawe qurban”.
واذااهرق دمهاخلق الله بكل قطرة من دمها عشرة من الملائكة يستغفرون له الى يوم القيامة
"Naliko getih qurban wes muncrat, saben sak tetes getih, Gusti Allah ndadeake malaikat 10, saperlu podho nyuwunake ngapuro marang kang gawe qurban, nganti dino qiamat”.
Kanjeng Nabi ugi ngendiko ;
عظموا ظحايكم فـإنــها على الصراط مطاياكم
“Gedekno kewan qurbanmu, jalaran qurban hku dadi tumpaanmu naliko ngliwati wot”.
Dene sejarahipun ibadah qurban puniko, kawiwitan naliko zaman Kanjeng Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dipunnuji dening Allah, sepinten ketaatipun dhateng Allah, kalih kadhawuhan mrogat putranipun ingkan langkung dipun tresnani, inggih puniko Nabi Ismail a.s. kados ingkang kasebat ing surat As-shofaat wiwit ayat 102-111 ;
فلما بلغ معه السعى قال يابنى انى ارى فى المنام انى اذبحك فانظر ماذا ترى
“Barang Ismail wis ngancik dewoso, Nabi Ibrahim ngendiko : anakku, ing sakjeroning impen ingsun kadhawuhan nyembeleh iro, mulo pikiren”.
قال : ياابت افعل ماتــؤمرستجدنى انشاءالله من الصابرين
“Nabi Ismail nuli matur : abah ! kulo aturi nindaaken punopo ingkang dipun perintahaken dhateng paduko, insyaallah paduko merisani bilih kulo kalebet golonganipu tiyang-tiyang ingkang sabar”.
Kacrios bilih sakderengipun kapragat Nabi Ismail ngasturake panyuwun 3 perkawis dhateng bapakipun :
1. Lading kaatunan ngasah ingkang landep.
2. Nyuwun supados wajah lan gulu dipun lurupi/tutup, supados bapake tegel lan tabah.
3. Dene rasukanipn mangke sak sampunipun gopak getih, kacaosno ibunipun minongko tondo pangabektos. Sareng sampun mapan, lading sampun sumeleh ing jenggot, astanipun Nabi Iabrahim lajeng mandek, mmboten saget nglampahaken lading. Malaikat Jibril dhateng mbekto mendo gibas saking suwargo, kapasrahaken dhateng Ibrahim kaaturn mragat, minongko tebusane Nabi Ismail a.s, Allah ngendiko:
ونادينه ان ياابراهيم قد صدقت الرؤياانا كذلك نجزى المحسنين
“Ingsun Allah nimbali : ibrahim ! temen-temen siro wus ngestoake dhawuh Ingsun ing sakjeroning impen, ing mengkono temen-temen ingsun paring pinwales marang wong-wong kang gawe kabecikas”.
ان هذا لهو البلاء المبين
“Saktemene iki sawijining ujian kang nyoto”.
وفديناه بذبح عظيم
“anakku Isma’il dak tebuss nganggo kewan sembelihan kang gede, arupo wedus”.
وتركنـاعليه فى الاخرين
“Ingsun langgengake kanggo Ibrahim pujian kang becik ing kalangane wong-wong kang sakbanjure”.
Hadirin !
Mekaten sejarahipun ibadah qurban, sahinggo kalanggengaken ngantos dados pengibadahipun umat Muhammad, kang nyaketaken pribadi dhateng Allah supados pikantuk rahmat soho maghfirohipun.
اَعُوْذُ باِللهِ مِنَ الشَّـيْطَانِ الرَّجِيْمِ انااعطينك الكوثر.
وَقُـلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنتَ خَيرُ الرَّاحمِين
Langganan:
Postingan (Atom)